kLePoNKuNinG
journal of a musician
January 04, 2006
Adrienne, Bunda, Patty, dan Rina.
Pernah gak sih lo ngerasa kalo diri lo tuh egois banget?

Oke oke, kalimat pembukaan gue mungkin terdengar agak-agak terlalu berlebihan over-dramatis gimana gitu ya..
Gini deh, pernah gak sih lo merasakan sekaligus dua emosi yang berbeda dan bertentangan dalam diri lo? Kayak.. benci tapi rindu, malu tapi mau, sebel tapi seneng? Rasanya pasti seperti dilema banget ya, bener gak sih?

Persis seperti cerita berikut ini..

Adalah seorang pianis bernama Adrienne, sedang gundah dan sedih hatinya malam ini. Bundanya dan Kakaknya, Patty, akan pergi meninggalkan dirinya esok pagi sekali. Mereka akan berlibur ke negeri indah dengan kapal pesiar nan megah, tanpa dirinya. Bukannya mereka begitu kejam tidak mengajak Adrienne tersayang dan menelantarkannya dengan sengaja, bukan. Masalahnya, Adrienne tidak dapat meninggalkan negeri tempat domisilinya untuk saat ini karena satu dan lain hal. Meskipun demikian, sang bunda dan kakak memutuskan untuk tetap pergi berlibur ke negeri indah tadi walau tanpa Adrienne . Malang sekali Adrienne..

Sudah sejak mula tercetusnya rencana liburan itu, Adrienne dengan mati-matian merengek dan membujuk sang bunda untuk jangan pergi meninggalkan dirinya.
"Kita bertiga bisa berlibur bersama ke tempat yang lebih dekat dari sini, tidak perlu keluar dari negeri ini, bukankah kebersamaan kita hal yang paling penting?" debat Adrienne. Tetapi apa daya, Bunda dan Patty sudah membulatkan hati mereka untuk melakukan perjalanan ini. Kata-kata Adrienne tidak berarti banyak bagi mereka, terutama bagi Bunda yang bertindak sebagai pembuat keputusan.

Maka dilandalah hati Adrienne dengan dilema emosi yang sangat mengganggu.

Batinnya berdialog demikian..
"Mereka tega sekali meninggalkan diriku, liburan itu toh bisa kita lakukan bersama di lain waktu saat aku sudah bisa keluar-masuk negeri ini dengan bebas! Mengapa harus saat ini juga dikala aku tak bisa ikut? Bunda dan Patty akan bersenang-senang dan menikmati liburan yang menakjubkan, dan mereka sama sekali tidak peduli kalau diriku sendirian disini dalam kebosanan. Bukankah Bunda datang jauh-jauh ke negeri ini untuk dapat bersama dengan diriku dan menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan diriku? Adakah diriku sedikitpun dalam prioritas kunjungannya kemari? Mengapa Bunda justru meninggalkan diriku? Tidak sadarkan beliau bahwa aku tak lagi dapat bersamanya untuk satu tahun ke depan?
Aku benci mereka sekarang. Aku benci yang mereka lakukan. Aku benci mereka meninggalkan diriku demi liburan mewah itu.
Aku juga benci orang-orang itu yang membantu mereka mengurus liburan ini. Aku benci orang-orang itu yang dapat bersama Bundaku selama seluruh 9 hari diatas pesiar itu. Dia Bundaku! Bukan Bundamu, bukan saudaramu, bukan kakakmu, bukan tantemu, bukan! Dia Bundaku..
I don't care if you all went to the cruise of a lifetime, just don't take my mother with you!"

Kemarahan Adrienne selalu memuncak setiap kali keluh kesahnya terpancing. Beban hatinya seperti menjadi berlipat ganda dan menyesakkan nafasnya. Tidak jarang Adrienne menangis sendiri dalam selimutnya sejak ditebusnya pembayaran liburan itu oleh Bunda dan Patty.

Namun kerap kali pula Adrienne berbicara sendiri dalam hatinya..
"Sudahlah. Bunda kan sudah tidak muda lagi. Ia sudah bekerja keras sekian lama dan melakukan banyak sekali pengorbanan demi diriku, Bunda pastinya layak mendapat liburan terbaik di dunia ini. Bunda layak melakukan apa saja yang ingin Ia lakukan, termasuk liburan di kapal pesiar. Mengapa aku jadi begitu egois? Hanya memikirkan diriku sendiri, harus apa mauku dan apa kataku. Aku kan masih muda, aku pun dapat naik kapal pesiar lain waktu di masa depan, masih banyak kesempatan. Lagipula, coba pikirkan kakakku yang satunya lagi, Rina. Ia sekarang sendirian jauh disana, namun tak sekali pun kudengar keluhannya. Rina justru sibuk melakukan pekerjaan mulia di kampung halaman kami, ia tidak peduli tentang kapal pesiar dan negeri yang indah, ia mungkin hanya ingin Bunda kami senang dan menikmati liburannya.. Betapa egoisnya diriku!!"

Gejolak dua emosi dalam hati Adrienne telah menyita seluruh pikirannya, Adrienne sungguh tersesat dalam batinnya.. bahkan sampai detik ini.
---------
Kisah ini tidak sepenuhnya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, itu bukanlah kebetulan belaka namun kesengajaan yang dibuat oleh penulis.
---------

Labels:

performed by edria @ 3:16 PM  
4 Comments:
  • At January 06, 2006 9:54 PM, Anonymous Anonymous said…

    Dri, tolong bilangin ke pianis yang namanya Adrianne itu ya... sometimes in life, we cannot have all we want.
    But that doesn't lessen the joy or the blessings we have.

    Tolong sampaikan ke Adrianne bahwa bundanya sayang pada ketiga anaknya (hehe, dari mana ya aku tahu kalau anaknya ada tiga). Masing-masing seperti the apple of her mother eyes.

    Kalau tidak sedang berada dengan Adrianne, bundanya selalu membanggakan Adrianne. Menyebutkan apa yang menjadi kelebihan Adrianne dibanding kakak-kakaknya. Di saat lain, Bunda dengan fair juga mengakui apa yang menjadi sifat baik dari Patty dan kakak Adrianne yang satu lagi... mmm... kalau nggak salah namanya Danielle.

    Adrienne nggak perlu berkecil hati. Selama ini kan Adrienne bersama Bundanya. Sedangkan Patty hanya bisa bertemu Bundanya beberapa kali dalam setahun (terakhir waktu graduationnya Adrienne kan?).

    Tolong sampaikan juga sama Adrienne: Kalau bukan karena sayang, Bundanya ga akan bawain oleh-oleh segudang dari negaranya... Dan dia tidak akan menamai anaknya dengan nama paling indah dari ketiga anaknya... Hehehehe....

    Cheer up, sunshine. Everyone loves you.

     
  • At January 06, 2006 11:40 PM, Anonymous Anonymous said…

    This comment has been removed by a blog administrator.

     
  • At January 06, 2006 11:42 PM, Anonymous Anonymous said…

    itu ada kok di ceritanya kalo anaknya bunda ada tiga, baca deh paragraf yg trakhir2, namanya Rina, bukan Danielle. Judulnya aja ada Rinanya hahaha..

    Anyway, nanti aku bilangin Adrienne deh, emang bener banget ya kata-kata kak dina.. Thanks for the support untuk Adrienne!!

     
  • At January 09, 2006 3:35 PM, Anonymous Anonymous said…

    what a sad...surely you can chop with the problem especially now when ur desease hit you really hard and ur uncle passed away...what a troubles you have.as you ever told me before, time will cure everything in the end..

     
Post a Comment
<< Home
 
 
.:: the musician

edria


.:: the life
.:: the memories
.:: the shouts

.:: the friends