kLePoNKuNinG
journal of a musician
April 02, 2006
Saya Berharap
Malam kemarin, kami makan malam di Olive Garden. Ada saya (pastinya), Reuben, Rebecca, dan Ryan. Rebecca dan Ryan berasal dari sidang lain, saya baru kenalan dengan mereka malam itu. Anak muda saksi typical Vegas sepertinya..

Di dua jam pertama, agak sulit bagi saya untuk berbincang dengan leluasa dengan mereka. Tapi saat itu saya tidak begitu peduli. Saya cukup puas dapat duduk disitu bersama orang-orang yang lumayan sebaya dengan semangkuk sup Zuppa Toscana dan segelas Chocolate Almond Amore, sebaliknya daripada berada di rumah menonton Memoirs of Geisha dengan dua wanita yang sudah menikah.

Sesekali dua kali saya ikut tertawa dengan obrolan mereka yang seharusnya lucu, tapi sering kali saya sama sekali tidak mendengar apa yang mereka obrolkan. Ketika saya akhirnya menyahut beberapa kalimat singkat yang terutama ditujukan kepada Reuben, kawan lama saya, yang lainnya justru membuat percakapan sendiri dan menghiraukan saya.. Ya maklum lah, saya kan orang baru di situ.

Seusai makan malam, kami ke hotel Aruba di daerah yang bisa dibilang daerah kumuhnya Vegas. Mereka menyebutnya the ghetto strip. Kisahnya, akan ada wine tasting gratis disana dengan acara swing dancing langganannya Reuben dan Rebecca. Namun sesampainya disana, ternyata kami terlambat. Memang sih, makan malam di Olive Garden telah benar-benar menyita waktu kami. Antriannya cukup lama untuk dapat meja, pelayanannya pun lambat malam itu. Alhasil, ketika kami akan masuk ke Aruba, kawan-kawan Rebecca ternyata sedang diluar siap untuk pergi. Acaranya sudah selesai.

Di lapangan parkir itu, saya berkenalan dengan Tom, Britney, Crystal, dan Liz. Mereka semua saksi. Tom adalah kawan Rebecca, dia menghampiri grup kami dan mulai berbincang dengan kami. Karakter botak dan buncit berusia 28 tahun itu terlihat sangat supel dan ramah, mungkin karena dia sedang sedikit buzzed. Dia membuka percakapan dengan beberapa joke yang tidak begitu lucu sebelum akhirnya memperkenalkan dirinya kepada kami yang belum mengenal dia. Kami berbincang sedikit namun banyak tertawa. Keadaannya mulai menjadi nyaman bagi saya. Pada akhirnya, sepertinya orang-orang itu dapat melihat sisi humoris dan santai saya.

Reuben : So, you're single right?
Tom : (with sarcasm) No, I'm married and have three children.
Edria : I can totally see that..
(everybody laughs)
Tom : Hey, that's not funny.
Edria: (while laughing) Well I'm laughing..
(everybody laughs again)


Setelah grup Tom berangkat menuju McMullan's Pub. Grup kami berbincang sedikit lagi sebelum Ryan memisahkan diri dan pulang. Saya mulai "dianggap" disitu. Mereka beberapa kali melibatkan saya secara langsung dalam pembicaraan, seolah-olah saya akhirnya dapat dilihat oleh mereka.

Ryan pulang, dan kami bertiga lanjut menyusul grup yang lain ke McMullan's Pub. Dekorasi tempat itu lumayan bertemakan bar klasik, asap rokoknya setebal suara hiruk pikuk orang-orangnya. Kami duduk di meja paling pojok, terpisah dari keramaian pelanggan lainnya. Live music-nya adalah seorang kakek koboi dengan gitar tua, dan seorang penyanyi wanita berkeriput tengah baya, berambut merah dan bermake-up tebal. Kombinasi yang cocok, tapi kurang entertaining.

Kami minum dan berbincang sebentar, lalu segera pulang. Tengah malam lewat lima belas menit saya tiba di depan pintu rumah. Walau mata terasa berat dan aroma rokok masih tercium kuat dari rambut dan pakaian saya, tapi saya senang kok. Kalau dinilai secara rata-rata, saya cukup menikmati malam itu.

Pada akhirnya sebelum saya menutup mata di tempat tidur di bawah selimut, saya menatap langit-langit kamar dan berharap dalam hati. Berharap saya dapat menemukan lebih banyak teman lagi di negeri ini. Teman untuk mengobrol dengan lepas dan bersenang-senang menikmati sisi baiknya Las Vegas, kota yang lebih terang di malam hari.
---------------

---------------

Labels:

performed by edria @ 2:24 PM   11 applauded
January 04, 2006
Adrienne, Bunda, Patty, dan Rina.
Pernah gak sih lo ngerasa kalo diri lo tuh egois banget?

Oke oke, kalimat pembukaan gue mungkin terdengar agak-agak terlalu berlebihan over-dramatis gimana gitu ya..
Gini deh, pernah gak sih lo merasakan sekaligus dua emosi yang berbeda dan bertentangan dalam diri lo? Kayak.. benci tapi rindu, malu tapi mau, sebel tapi seneng? Rasanya pasti seperti dilema banget ya, bener gak sih?

Persis seperti cerita berikut ini..

Adalah seorang pianis bernama Adrienne, sedang gundah dan sedih hatinya malam ini. Bundanya dan Kakaknya, Patty, akan pergi meninggalkan dirinya esok pagi sekali. Mereka akan berlibur ke negeri indah dengan kapal pesiar nan megah, tanpa dirinya. Bukannya mereka begitu kejam tidak mengajak Adrienne tersayang dan menelantarkannya dengan sengaja, bukan. Masalahnya, Adrienne tidak dapat meninggalkan negeri tempat domisilinya untuk saat ini karena satu dan lain hal. Meskipun demikian, sang bunda dan kakak memutuskan untuk tetap pergi berlibur ke negeri indah tadi walau tanpa Adrienne . Malang sekali Adrienne..

Sudah sejak mula tercetusnya rencana liburan itu, Adrienne dengan mati-matian merengek dan membujuk sang bunda untuk jangan pergi meninggalkan dirinya.
"Kita bertiga bisa berlibur bersama ke tempat yang lebih dekat dari sini, tidak perlu keluar dari negeri ini, bukankah kebersamaan kita hal yang paling penting?" debat Adrienne. Tetapi apa daya, Bunda dan Patty sudah membulatkan hati mereka untuk melakukan perjalanan ini. Kata-kata Adrienne tidak berarti banyak bagi mereka, terutama bagi Bunda yang bertindak sebagai pembuat keputusan.

Maka dilandalah hati Adrienne dengan dilema emosi yang sangat mengganggu.

Batinnya berdialog demikian..
"Mereka tega sekali meninggalkan diriku, liburan itu toh bisa kita lakukan bersama di lain waktu saat aku sudah bisa keluar-masuk negeri ini dengan bebas! Mengapa harus saat ini juga dikala aku tak bisa ikut? Bunda dan Patty akan bersenang-senang dan menikmati liburan yang menakjubkan, dan mereka sama sekali tidak peduli kalau diriku sendirian disini dalam kebosanan. Bukankah Bunda datang jauh-jauh ke negeri ini untuk dapat bersama dengan diriku dan menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan diriku? Adakah diriku sedikitpun dalam prioritas kunjungannya kemari? Mengapa Bunda justru meninggalkan diriku? Tidak sadarkan beliau bahwa aku tak lagi dapat bersamanya untuk satu tahun ke depan?
Aku benci mereka sekarang. Aku benci yang mereka lakukan. Aku benci mereka meninggalkan diriku demi liburan mewah itu.
Aku juga benci orang-orang itu yang membantu mereka mengurus liburan ini. Aku benci orang-orang itu yang dapat bersama Bundaku selama seluruh 9 hari diatas pesiar itu. Dia Bundaku! Bukan Bundamu, bukan saudaramu, bukan kakakmu, bukan tantemu, bukan! Dia Bundaku..
I don't care if you all went to the cruise of a lifetime, just don't take my mother with you!"

Kemarahan Adrienne selalu memuncak setiap kali keluh kesahnya terpancing. Beban hatinya seperti menjadi berlipat ganda dan menyesakkan nafasnya. Tidak jarang Adrienne menangis sendiri dalam selimutnya sejak ditebusnya pembayaran liburan itu oleh Bunda dan Patty.

Namun kerap kali pula Adrienne berbicara sendiri dalam hatinya..
"Sudahlah. Bunda kan sudah tidak muda lagi. Ia sudah bekerja keras sekian lama dan melakukan banyak sekali pengorbanan demi diriku, Bunda pastinya layak mendapat liburan terbaik di dunia ini. Bunda layak melakukan apa saja yang ingin Ia lakukan, termasuk liburan di kapal pesiar. Mengapa aku jadi begitu egois? Hanya memikirkan diriku sendiri, harus apa mauku dan apa kataku. Aku kan masih muda, aku pun dapat naik kapal pesiar lain waktu di masa depan, masih banyak kesempatan. Lagipula, coba pikirkan kakakku yang satunya lagi, Rina. Ia sekarang sendirian jauh disana, namun tak sekali pun kudengar keluhannya. Rina justru sibuk melakukan pekerjaan mulia di kampung halaman kami, ia tidak peduli tentang kapal pesiar dan negeri yang indah, ia mungkin hanya ingin Bunda kami senang dan menikmati liburannya.. Betapa egoisnya diriku!!"

Gejolak dua emosi dalam hati Adrienne telah menyita seluruh pikirannya, Adrienne sungguh tersesat dalam batinnya.. bahkan sampai detik ini.
---------
Kisah ini tidak sepenuhnya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, itu bukanlah kebetulan belaka namun kesengajaan yang dibuat oleh penulis.
---------

Labels:

performed by edria @ 3:16 PM   4 applauded
December 22, 2005
My Arizona Experience - A Short Reading For Fellow Witnesses
Last Saturday, December 17th, 2005, our Indonesian book study group went to Kingman, Arizona, to preach the good news to the Indonesian people there. It was a two-hour drive with eight people packed in our expedition truck. Another car was the Intrieri's, four people and a baby was in that car.

Why Kingman? Well, brother John has some information from friends down there that there's quite a quantity of Indonesian people that might be interested on the Bible, and there's one brother there that is actually conducting a Bible study with an Indonesian man. Being asked for a friendly favor, the thirteen of us came to assist them for the day. We were all ready with our literatures, tracts, presentations, and zealous. We went from restaurant to restaurant, apartment to apartment, tying to meet and talk to our fellow Indonesians. Some responded positively, some didn't. But no matter how they responded, we were all enjoying the ministry and having a great time.

Here's a cool story.
Remember earlier when I wrote that there's a brother conducting a Bible study with an Indonesian man? Apparently, the brother was having a hard time communicating with his Bible student, saying that the Indonesian man was not so understandable and that sort of became the primary obstacle in expressing themselves to one another. So he requested if we all could come by to the brother's place to meet this Indonesian Man. And so we went, planning to talk as much as we can to the Indonesian man about the Bible in our own mother tongue, reaching his heart.

There I was sitting across him, a tall old Chinese-Indonesian man, who looked awfully familiar. I asked him where does he live in Jakarta, and surprisingly his home is actually in my congregation's preaching territory back home. Well guess what.. Yes, I've met him before!
I've preached to him once, sometimes eight years ago, when I went door to door with the Circuit Overseer that time. We were in his house for a good 30 minutes, and the CO did all the talking, of course. I remember this so well because it was my first time out with a CO, and shocking, he remembered me too! Can you believe that?! We've met 8 years ago in our hometown, and here we are again somewhere in the middle of Kingman, a small city with population 35.000, in Arizona, United States. How cool is that?!

Well, I think this experience tells us that our preaching work is spreading to the ends of the world. No matter where they are, there's always somebody knocking at their door, or talking to them while they're walking their dog at a park, or giving them a tract at their lunch break at work, or hey, calling them to share a thought from the Bible on the phone.



----------
"And this good news of the kingdom will be preached in all the inhabited earth for a witness to all the nations; and then the end will come."
Matthew 24:14
----------

Labels:

performed by edria @ 2:08 PM   4 applauded
 
.:: the musician

edria


.:: the life
.:: the memories
.:: the shouts

.:: the friends