Di dua jam pertama, agak sulit bagi saya untuk berbincang dengan leluasa dengan mereka. Tapi saat itu saya tidak begitu peduli. Saya cukup puas dapat duduk disitu bersama orang-orang yang lumayan sebaya dengan semangkuk sup Zuppa Toscana dan segelas Chocolate Almond Amore, sebaliknya daripada berada di rumah menonton Memoirs of Geisha dengan dua wanita yang sudah menikah.
Sesekali dua kali saya ikut tertawa dengan obrolan mereka yang seharusnya lucu, tapi sering kali saya sama sekali tidak mendengar apa yang mereka obrolkan. Ketika saya akhirnya menyahut beberapa kalimat singkat yang terutama ditujukan kepada Reuben, kawan lama saya, yang lainnya justru membuat percakapan sendiri dan menghiraukan saya.. Ya maklum lah, saya kan orang baru di situ.
Seusai makan malam, kami ke hotel Aruba di daerah yang bisa dibilang daerah kumuhnya Vegas. Mereka menyebutnya the ghetto strip. Kisahnya, akan ada wine tasting gratis disana dengan acara swing dancing langganannya Reuben dan Rebecca. Namun sesampainya disana, ternyata kami terlambat. Memang sih, makan malam di Olive Garden telah benar-benar menyita waktu kami. Antriannya cukup lama untuk dapat meja, pelayanannya pun lambat malam itu. Alhasil, ketika kami akan masuk ke Aruba, kawan-kawan Rebecca ternyata sedang diluar siap untuk pergi. Acaranya sudah selesai.
Di lapangan parkir itu, saya berkenalan dengan Tom, Britney, Crystal, dan Liz. Mereka semua saksi. Tom adalah kawan Rebecca, dia menghampiri grup kami dan mulai berbincang dengan kami. Karakter botak dan buncit berusia 28 tahun itu terlihat sangat supel dan ramah, mungkin karena dia sedang sedikit buzzed. Dia membuka percakapan dengan beberapa joke yang tidak begitu lucu sebelum akhirnya memperkenalkan dirinya kepada kami yang belum mengenal dia. Kami berbincang sedikit namun banyak tertawa. Keadaannya mulai menjadi nyaman bagi saya. Pada akhirnya, sepertinya orang-orang itu dapat melihat sisi humoris dan santai saya.
Reuben : So, you're single right?
Tom : (with sarcasm) No, I'm married and have three children.
Edria : I can totally see that..
(everybody laughs)
Tom : Hey, that's not funny.
Edria: (while laughing) Well I'm laughing..
(everybody laughs again)
Setelah grup Tom berangkat menuju McMullan's Pub. Grup kami berbincang sedikit lagi sebelum Ryan memisahkan diri dan pulang. Saya mulai "dianggap" disitu. Mereka beberapa kali melibatkan saya secara langsung dalam pembicaraan, seolah-olah saya akhirnya dapat dilihat oleh mereka.
Ryan pulang, dan kami bertiga lanjut menyusul grup yang lain ke McMullan's Pub. Dekorasi tempat itu lumayan bertemakan bar klasik, asap rokoknya setebal suara hiruk pikuk orang-orangnya. Kami duduk di meja paling pojok, terpisah dari keramaian pelanggan lainnya. Live music-nya adalah seorang kakek koboi dengan gitar tua, dan seorang penyanyi wanita berkeriput tengah baya, berambut merah dan bermake-up tebal. Kombinasi yang cocok, tapi kurang entertaining.
Kami minum dan berbincang sebentar, lalu segera pulang. Tengah malam lewat lima belas menit saya tiba di depan pintu rumah. Walau mata terasa berat dan aroma rokok masih tercium kuat dari rambut dan pakaian saya, tapi saya senang kok. Kalau dinilai secara rata-rata, saya cukup menikmati malam itu.
Pada akhirnya sebelum saya menutup mata di tempat tidur di bawah selimut, saya menatap langit-langit kamar dan berharap dalam hati. Berharap saya dapat menemukan lebih banyak teman lagi di negeri ini. Teman untuk mengobrol dengan lepas dan bersenang-senang menikmati sisi baiknya Las Vegas, kota yang lebih terang di malam hari.
---------------
---------------
Labels: stories of my life